— Bagian 1 dari 3 Tulisan
Hebohnya berita perselingkuhan suamiku dengan Rininta, sahabatku, membuatku bagai disambar petir di siang bolong. Aku benar-benar muak melihat dan mendengar berita, yang menurutku sama sekali jauh dari kebenaran itu, menyebar ke mana-mana dengan mudahnya melalui majalah, tabloid, harian, radio, tv, bahkan juga di internet. Gila! Mana mungkin Gade berbuat sekeji itu padaku! Umpatku sambil meninju telapak kiriku dengan tangan kananku.
Kuintip pemandangan di depan gerbang pintu masuk rumahku dari balik tirai jendela kamarku. Beberapa mobil dan motor berhenti di sana. Tampak pula Wilopo, satpam rumahku, yang sedang menggeleng-geleng pada beberapa orang yang mengerumuninya, yang sudah pasti para pemburu berita yang ingin mencari informasi ke rumah ini. Untung saja aku sudah menyuruhnya agar selalu menjawab ‘tidak tahu’.
Aku menghela napas dalam, jantungku berdebar kencang. Aku tak mengerti, mengapa tiba-tiba saja para kuli tinta itu bisa memaparkan berita ‘bodoh’ bahwa suamiku sudah menikah siri di Palembang dengan Rininta, – sahabatku sekaligus perempuan yang kupercaya menjadi penyanyi latar grup band suamiku. Aku yakin seribu persen, Rininta tak akan senekat itu menyakitiku. Bukankah dulu aku yang mendesak Gade, suamiku, untuk menolongnya menjadikan dia sebagai penyanyi latar di saat ia kehilangan suaminya karena suatu kecelakaan pesawat terbang? Jadi tidaklah mungkin janda satu anak itu tega menusukku dari belakang setelah segala yang kulakukan untuk membantunya bangkit lagi dari kedukaan dan kesulitannya menghadapi hidup ini.
“Yang paling penting, kan Gade tidak berbuat itu, Rene? Kamu sudah konfirmasi sama Gade, kan?” Tiara, managerku, mengelus pundakku.
“Ah, kamu tahu sendiri sifat Gade. Nanti aku tanya, dia malah mengomel, mengapa aku lebih percaya gosip?”
“Ya susah juga kalau begitu, kan kalian harus bicara supaya jika suatu kali ada pers tanya, kalian bisa jawab dengan kompak dan lugas, meskipun kalian tidak berada di tempat yang sama. Tidak seperti ini, kamu terpaksa sembunyi dari pers, karena tak tahu apa-apa…”
“Aku malas mau konfirmasi dengan Gade, mana dia lagi di luar kota. Bicara via telpon kayaknya kok malah nanti makin runyam rasanya. Kadang-kadang aku juga suka emosi, kan?”
“Sebaiknya kamu bicara empat mata dengan Gade, setelah dia pulang nanti.”
“Yah… dua hari lagi dong!” keluhku.., “Sementara itu aku harus terus menyuruh satpamku bilang ‘aku nggak ada di tempat’, begitu?”
“Untuk sementara, itu pilihan terbaik, Rene!”
“Untung aku nggak ada job sampai dua minggu depan…”
Tiara mengangguk-angguk, lalu menepuk pundakku.
“Ya sudah, aku jalan dulu ya… Mumpung di depan sudah sepi!” ujarnya sambil melongok jendela.
“Keep on silence, ya Tiar!” Aku memeluknya sambil menitikkan air mata. Aku tiba-tiba merasa teramat sedih, karena managerku ini hendak pergi, sementara aku seorang diri di rumah ini, dan bingung memikirkan masalah besar kemelut gossip rumah tanggaku yang belum pasti kebenarannya, tetapi ada beberapa bukti yang mendukung sehingga seakan-akan benar adanya.
“Jangan kuatir aku nggak akan bicara sama pers. Percayalah. Hidupku kan dari kamu juga, Rene…”
“Thanks, Mam!”
Aku mengantarnya hingga ke mulut pintu kamar, lalu segera masuk ke kamar lagi.
Pukul dua belas malam, handphone-ku berdering nyaring. Nyaris saja membangunkan Eliana anak tunggalku yang tengah tidur di kamarku. Kuangkat handphone di samping bantalku.
“Hallo, Gade? Ada apa?”
“Sudah tidur, Rene?”
“Mana mungkin aku bisa tidur! Kamu baru selesai manggung?”
“He eh…”
“Kamu udah dengar…”
“Berita itu?” Gade langsung saja memotong, “Biar saja, toh…”
“Tapi berita itu tidak benar, kan?” pertanyaan yang sudah kucoba kutahan untuk tidak kuucapkan itu tiba-tiba meluncur begitu saja dari lubang mulutku. Hatiku mendadak ketakutan sendiri, takut jika Gade berbalik marah kepadaku.
“Kita bicarakan saja besok, kalau aku sudah di rumah…”
“Memang kenapa kalau kita bicara di telpon sekarang?”
“Sudahlah, aku cuma menelepon untuk mengecek apa kamu dan Eliana baik-baik di rumah…”
“Lalu, bagaimana kalau pers…?”
“Sudah diam saja sementara di rumah, sampai aku pulang. Aku mau menjelaskan segalanya nanti…”
Aku menggigit bibir. Mencoba untuk menahan emosi.
“Ya sudah…”
“Kamu baik-baik di rumah ya, Rene!”
“Thanks, I love you, Gade. Always…”
“Bye, Rene…”
Telepon sudah kututup, tapi aku tetap tak mampu memejamkan mataku. Kulangkahkan kakiku menuju studio musikku… Kucoba ciptakan sebuah tembang baru di sana.
— Bersambung ke Bagian 2… klik disini… —
Jakarta, 1 Januari 2010
—————————————-
Dewi Tresnowati. Ibu rumah tangga, alumnus IPB Bogor, sering menulis. Tinggal di Jakarta.
[...] selebritis Kris Dayanti yang lebih dikenal dengan sebutan KD, dengan pasangannya, akibat kasus selingkuh sang selebritis……….. Bahagia atau tidak bahagia dengan pasangannya…, pria [...]
[...] Bagian 1 klik disini… [...]
menarik…. tapi mbak hrs sabar menghadapi’y….
Ikuti ceritanya seterusnya Nez…..
uuhh.. gosip apa beneran sich…??
Baca terus…. lanjutannya….
[...] Ke Bagian 1… [...]
rumit y….??
Sepanjang kedua pihak yg konflik mau kepala dingin… tentu masalahnya bisa dijernihkan…. ;0
suka mbak….
[...] memang memiliki alasannya, sejak kegagalannya dalam membina hubungan dengan suaminya yang berselingkuh beberapa tahun lalu yang membawa trauma, sering mendapati dirinya begitu terpukul [...]
[...] bergandengan tangan, menyaksikan sang surya tenggelam di ufuk barat. Rasanya sakit mengetahui cinta ini akan segera berakhir. Jika rasa itu mulai datang, aku hanya menyandarkan kepalaku ke dadanya yang bidang, membiarkannya [...]
[...] bagi kamu adalah mengimbangi sisi maskulin tersebut. Misalnya sesekali ikut serta dalam kegiatan tersebut. Hindari juga kecemburuan, karena [...]