By Rangga L. Tobing
Bila cinta meninggalkanmu ia laksana jejak-jejak kaki yang membekas di tepian pasir pantai… Janganlah kau coba menghapusnya dengan sapuan ombak, karena jejak-jejak itu tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Jangan pula kau meratapinya dengan kesedihan, hal itu hanya akan membuatmu lupa kepada sang mentari yang perlahan hilang ditelan pekatnya malam. Namun jadikanlah jejak-jejak itu kenangan cinta yang kau petikan di dalam hatimu… Karena keindahan cinta tidak terletak ketika ia datang merangkul atau pergi meninggalkanmu, melainkan ketika kau dapat memaknainya dengan bijak…
Besar kecilnya cinta seseorang hanya dapat diukur dari bagaimana ketika ia menghadapi kekurangan yang kau miliki…
Untuk dapat mengagumi seseorang bukanlah hal yang sulit. Kau cukup berjumpa dengan seseorang yang memenuhi semua kriteriamu – keadaan finansialnya memuaskan, rupanya yang menawan, intelektualnya tinggi, serta bentuk tubuhnya yang mengagumkan… Namun dibutuhkan cinta sepenuhnya untuk dapat benar-benar mencintainya – mencintainya dengan sepenuh hati, sepenuh waktu, dan mampu tersenyum sepenuhnya kepada kelebihan dan kekurangan yang ia miliki…
Jika cinta telah dipersatukan oleh pernikahan, aku menginginkan agar cincin pernikahan itu kau tancapkan di hatiku, karena aku tak mau cincin itu hanya menjadi hiasan di jemariku semata.., dan aku tak menginginkan adanya cincin-cincin lainnya yang akan menghiasi hatiku lagi…
Aku mencintaimu saat ini, maka janganlah ragu, bahuku akan selalu siap menjadi sandaran segala keluh kesahmu.., hingga suatu saat nanti ia akan menua, tapi ia tak akan pernah rapuh sedikitpun untuk tetap kau jadikan sandaran…
Atas nama cinta…..
9 Desember 2009
————————————–
Rangga L. Tobing. Sering menulis, tinggal di Bandung. Aktif dalam berkesenian.
suka d….. lagi2 cinta y…..
Cinta yang indah…..
[...] Pertemuan demi pertemuan membuatnya semakin terlena dan lupa akan sekelilingnya. Dunianya hanya untuk cinta ini, yang menggerogoti pikirannya seperti [...]
uuhh….. knp bisa begitu yaaakk….??
kembali kepada penulisnya…..
[...] tidak sedang menengadah pada deteksi angin yang gemerincing memainkan irama. aku ada disini, di atas karang… menatap cakrawala tanpa batas, membiarkan angin menampar wajahku berulang, menikmati hangat [...]